Kendaraan roda tiga berkemudi gowes dengan singgasana berkuota 2 orang yang kerap menjadi alat transportasi jarak dekat kini berseliweran diantara hiruk pikuk kota Surabaya. Anak – anak kecil berambut pirang sinar matahari, sekelompok waria yang menggelikan, hingga turis mancanegara diatas trotoar semua berkumpul dipandangan, menjadi suatu view yang memusingkan.
“Si mas ini, sudah sakit…masih aja narik. Gausah dipaksain Mas…. laaah rezeki mah udah diatur dari sononya.” Mang Mi’un berceloteh sambil terus memangsa pisang goreng buatan istrinya.
“Ya ora ngono lah Mas yo… kalo kita ndak menggali, ya mana bisa emas nya kelihatan, kelihatan aja ngga apalagi bisa bawa pulang.” Jawabnya sambil mengusap peluh yang kini mengalir lambat di pipinya yang penuh kerutan.
Mang Mi’un melanjutkan , “Iya sih Mas, tapi kesehatan itu lebih penting.”
Dia tersenyum, “Nanti kamu pasti akan merasakan, jika otakmu udah terkontaminasi penuh oleh suatu hal, pas kamu melupakan segalanya.”
“Aduh si Mas ini…..kata – katanya bikin merinding mas, saya jadi bergumam ini. Mas cocok jadi pembicara di seminar – seminar.” Mang Mi’un berkata sembari tersenyum penuh kagum.
“Alah Mas, pujian itu memabukkan.” Dia meneguk air putih di botol bekas air mineral, “Wis lah Mas yo, aku berangkat dulu ya, cepet narik, rejeki bisa dipatok ayam.”
Mang Mi’un melambaikan tangan padanya.
Dia mengayunkan kakinya yang selalu terlihat letih. Baginya, berliter liter peluh yang keluar, itu semua berarti kosong jika ia tidak bisa membuat keluarganya tersenyum.
Becak yang tak terlalu kokoh itu sejak tadi meluncur diatas kendalinya, menelusuri jalan – jalan raya Surabaya yang penuh hiruk pikuk manusia. Surabaya merupakan kota yang cukup indah untuk dikunjungi. Terkadang, turis mancanegara pun menapakinya.
4 jam sudah ia mengitari Surabaya tanpa satupun hasil.
Matanya yang sejak tadi letih meliarkan diri menatap apapun yang bisa ia dapatkan oleh kedua matanya dalam sekedip. Objek kesekian yang ditangkap olehnya merupakan sesuatu yang terlalu menggiurkan. Seorang wanita setengah membawa koper. Kelihatannya dia transmigran.
“Ibu….monggo saya antarkan, kemana tujuannya?” Dia menyapa ramah.
“Aduh Mang, maaf..saya lagi nungguin suami saya.. maaf ya Mang ya.”
Pupus.
Pukul 05.49.
Ia merogoh kantong.
Selembar pattimura dan logam perak nominal 500 rupiah.
Tiba – tiba saja terpikir, buah hatinya melolong dengan perut perih. Bulir air mata terjun bebas tanpa rekayasa. Dia kembali mengayuh dengan gontai.
Tenaga terus terkuras sembari mentari kian tenggelam.
Secara tiba – tiba entah itu datang darimana, seorang pria berwajah asing menghampirinya.
“Mister, ada yang bisa saya bantu?” Dia mencoba ramah walaupun dalam kondisi yang sangat rentan.
“Ada……….sesuatu …..yang bisa bring me to my place?” turis itu tampaknya kesulitan menyesuaikan dengan lidah indonesia.
“Oh… monggo Mister monggo saya antarkan pake becak saya, nggak mahal kok ayo naik.”
Si turis yang disebut Mister itu pun akhirnya melangkah naik dan duduk di singgasana kecil si becak.
Pukul 07.00.
Terus mengayuh, dan mengayuh.
Wajah ia berseri seri. Matanya berbinar. Senyumnya merekah lebar.
“Kita akan kemana Mister?”
“Saya ingin go to the bandara.” Kata turis itu.
“Baik mister”.
Mengayuh itu mengasyikkan. Itu motto hidupnya.
Jalan raya Surabaya tidak lengang. Tiba – tiba motor doyok yang berjalan sempoyongan hampir menyerempet becak miliknya.
Swing!
“Tolol banget sih jadi tukang becak! Jalan ga liat liat.”
Lalu dia berdecak lidah dan berkata,
“Yaah si Mas, kalo saya pinter mah ngga akan jadi tukang becak Mas.” Dia menjawab santai.
Jalan semakin lengang. Akhirnya mereka sampai ke bandara.
“Sudah sampai toh Mas..” katanya.
“Bang….i’m so sorry, saya….tidak bilang ini dari tadi.. dompet saya kecopetan, saya tersesat tadi, lalu saya sekarang berniat kembali ke Australia karena yang saya punya saat ini hanya tiket pesawat.” Si turis itu berkata dengan mimik antara malu dan iba.
Dia hanya tersenyum berat. Namun tersenyum lagi dengan ikhlas.
“Berbagi itu indah, saya ingin berbagi. Karena hanya ini yang saya miliki, saya tak punya harta dan jarang sekali beramal. Kini waktunya.”
Pukul 08.30.
Ayang – ayang dolar yang sejak tadi terngiang – ngiang di benaknya……pupus.
Tinggallah rol film yang berputar diotaknya; Anak kecil yang tertidur dan meringis sambil memegang perutnya, Istri yang mengusap – ngusap kepala anaknya yang tertidur sambil menyenandungkan lagu nina bobo.
Pulang dengan gontai.
Gubuk reyot menunggunya.
Malam ini hampa. Hanya berharap esok hari yang lebih bermakna.
***
3 tahun berlalu.
Hidup belum membaik.
Dia tak pernah muluk – muluk bermimpi, dia hanya punya satu harap. Perut keluarganya terisi. Hanya itu.
Hari ini dia kembali mengayuh. Menelusuri hiruk pikuk kota kembali.
Selalu setiap hari dengan jalur yang sama.
Ibu – ibu kumal yang dulu menggendong anak, kini tidak menggendong lagi, tapi menggandeng. 3 tahun telah berlalu, dan tidak banyak berubah. Begitu juga hidupnya.
Matanya hari ini sayu. Kurang tidur.
Jalan di hadapannya kabur, pandangannya kabur. Lalu ia terjatuh. Gelap…semakin gelap… lalu sunyi. Terkulai.
***
“Mang..mang.. bangun mang!” suara Mang Mi’un yang tak asing tertangkap telinganya.
Dia kaget dan terbangun.
“Mang, ini ada tamu daritadi nungguin Mang bangun lho.” Kata Mang Mi’un.
Dia beranjak, lalu keheranan, merasa asing pada orang yang dihadapannya.
“Excuse me. I’m Clara. Saya…cucu dari orang yang 3 tahun lalu bapak tolong. My grandfather had passed away. Kakek berwasiat jika sebagian dari harta terbesarnya diserahkan kepada bapak.”
Dia terdiam. Membisu. Bening bulir demi bulir yang terjun bebas dari balik kelopak matanya. Lemas. Berkata syukur pun sulit. Akhirnya hati mewakili berbicara. Katanya : “Hari lalu, esok, dan nanti, selalu bergandengan..selalu berkaitan. Fase sulit telah dilewati.. Kini, anakku tak lagi tertidur sambil meringis memegangi perutnya.”
Dia menatap langit. Lalu tersenyum.
(Source: theinsurged)
I LOVE ZAYN MALIK <3
I have a heart and that’s true
But now it has gone from me to you
So care of it just like I do
Cuz now I have no heart, but you have two
me again
me. hehehe
Learn to be Contented…
best moments at Study Tour great trip!!